Rektor UIN STS Jambi Ciderai Dunia Akademisi

261

Oleh: Prof.Dr.H.Muktar,M.Pd Guru Besar UIN STS Jambi

NETIZENEWS.CO.ID/JAMBI-Ada beberapa hal yang dapat kita lihat dari proses pelantikan pejabat baru di lingkungan Kementrian Agama khususnya di UIN STS Jambi baru-baru Ini dan terkesan ada kejanggalan seputar pelantikan pejabat di lingkungan UIN STS Jambi, terutama terjadinya pemecatan pejabat dengan tanpa alasan yang berdasarkan aturan, mekanisme dan budaya yang mengedepankan nilai-nilai akademis.

Proses pengangkatan dan pelantikan tersebut tentu membuat gejolak dan terkesan tidak transparan dan berdambak mendasar terhadap Budaya Organisasi sehingga berimplikasi terhadap proses kerja dan keprofesionalitasan kaum intelektual.

Dalam kajian Administrasi, terdapat beberapa kejanggalan yang dilakukan oleh Rektor dan kroninya :
1.Pelantikan dilakukan Pada malam hari, di luar jam dinas padahal yang dilantik pejabat kedinasan, pelantikan dilakukan secara misterius tanpa pemberitahuan, tanpa basa basi, tanpa serah terima jabatan dan aset.

2.Formasi Wakil Dekan tiba-tiba langsung menjadi WR2, atas nama Dr. Hidayat. Berdasarkan pendaftaran dan asesmen, WR2 mendaftar sebagai calon wakil dekan, yang belum di proses sampai saat ini. Denikian juga formasi Dekan menjadi Direktur Pascasarjana, padahal sesuai form isian yang ditandatangani adalah untuk Dekan, tapi kenyataannya justru diangkat oleh Rektor jadi Direktur Pascasarjana.

3.Pemecatan pejabat dilakukan karena pejabat tersebut dianggap sudah dua Periode oleh rektor, tapi kenyataan yang diangkat rata-rata juga sudah dua periode, seperti WR1 (mundur), WR3 dan Dekan Adab.

4.Pejabat diangkat tidak didasarkan dengan analisis jabatan, kinerja dan prestasi kerja, sehingga pejabat yang diamanatkan tidak memiliki kompetensi pada institusi yang dipimpinnya.

5.Yang lebih fatal hari segini “now” Rektor melakukan praktek nepotisme dengan mengangkat anak menantu sebagai Dekan fakultas Syariah atas nama Dr. Miftah dan ponakan kontan Rektor sebagai Dekan fakultas Tarbiyah, atas nama Dr. Armida. Rektor sengaja mengangkat anak dan keponakan ini, mungkin Ini yang sering disebut “Aji Mumpung”, mumpung masih punya kekuasaan, karena tahun 2019, Rektor mangkat karena sudah berusia 60 tahun, yang secara otomatis berhenti.

Melihat susunan pejabat yg dinilai oleh calon WR1 (Sua’aidi Asy’ari, PhD) hampir semuanya di bawah standar kompetensi mutu UIN, dan terjadi nepotisme oleh Rektor maka Pada Waktu pelantikan Itu, Su’aidi meninggalkan tempat pelantikan atau menolak dilantik oleh Rektor UIN STS Jambi.

Melihat Kejanggalan Itu, banyak pihak menilai bahwa kebijakan Rektor dalam mengangkat pejabat Ini cacat hukum dan harus batal demi hukum. Seorang Rektor perlu melihat dan mengkaji aturan dan norma-norma yang berkaitan dengan proses pengangkatan tersebut, karena dalam proses penggantian ini, Rektor dan kroninya tidak faham aturan Hukum.

Realitas ini Menjadi fenomena awal keretakan dan konflik besar di UIN STS, yang baru saja memasuki usia dua bulan, semenjak di tetapkan menjadi UIN. Dengan kata lain telah dibuka perang di kalangan para akademisi, dan perang mulai ditabuh oleh Rektor yang tidak mengerti hukum dan budaya akademis ini. Artinya Rektor siap pasang badan secara arogan untuk mendulang kejatuhannya.

Terkait hal tersebut sikap dan keputusan Rektor yang arogan ini tentu mempengaruhi kelembagaan, yang baru saja memulai proses alih status dari IAIN STS Jambi Menjadi UIN STS Jambi. Sikap Rektor terkesan ada tekanan keterkaitan pihak-pihak tertentu dan kroninya, sungguh disayangkan kebijakan Rektor yang awam dan tidak nengkaji dampak, gejolak di dalam lingkungan kampus yang mempuyai simbol utama nilai Islam ini, justru terbawa ke dalam politik praktis yang menonjol dan jauh dari norma ke Islaman.

Begitu muga menurut Mantan Dekan Tarbiah Dr. Kaspul Us, yang mampu Membawa Fakutas Tarbiah lebih di kenal, Maju dan dapat Memperoleh Nilai Akreditasi A Namun Justru hal tersebut bukanlah menjadi motivasi dan Prestasi menempatkan jabatan seseorang, Justru sebaliknya harus diganti dengan tanpa alasan.

Tentu bukan permasalahan orangnya yang dilantik, tapi rektor selain tidak berpegang dengan norma akademis, dan kebijakannya menciderai budaya akademis. Mentang-mentang dia rektor, tentu tidak bisa semaunya dalam menggunakan kekuasaan dan kebijakan Rektor, di UIN STS Jambi. Penilaian prestasi jabatan bisa dikatakan untuk memberikan nilai positif demi kemajuan UIN STS Jambi, namun menjadi dilema atas proses penetapan tidak lagi melalui kajian dan pertimbangan seolah-olah terkesan dadakan dan tidak ada acara serah terima jabatan sari pejabat lama ke pejabat baru.

Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar, di kalangan akademisi, Pemerintah Daerah, Mahasiswa dan Masyarakat secara umum. Bisa Saja hal ini dikesankan, Rektor tidak faham aturan akademis dan birokrasi. Rektor yang juga Kebetulan Ketua MUI Provinsi Jambi, telah mengambil kebijakan yang dzalim dan mendzalimi akademisi UIN STS serta telah menciderai budaya akademis.

Tentu Proses dalam Pencapayan Percepatan Menuju Kampus yang Mandiri, UIN STS Jambi akan di beradapan dengan berbagai persoalan Konsep Ketidak Seimbangan dalam Kerangka Pengembangan Kemajuan Nila-Nilai Kearifan Satu Sama lain. Inilah yang juga disebut Phatologi Birokrasi terhadap Proses Penetapan Fungsi Pelaksana Kerja dengan Tampa Mempertimbangkan Dari Aspek2 Dan Dampak Dari Pada Program Kerja UIN STS Jambi Kedepan.