Pembatik Tradisional, Juara Tingkat Nasional Harum Kabupaten Sarolangun

157

SAROLANGUN – Dengan harapan bisa memperkenalkan daerah Sarolangun, Rikzan salah satu pembatik tradiaional asal Sarolangun mencoba bertahan dengan peralatan seadanya, walaupun saat ini sebenarnya pemasaran batik masih sangat kurang diminati, dan pemerintah setempat belum memberi dukungan sepenuhnya.

Saat di jumpai rumahnya di Desa Muara Danau Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun sekalian tempat pembuatan batik khas Sarolangun, Minggu (18/11/2018), Rikzan menceritakan, bahwa sepanjang 2018 ini dirinya sudah dua kali mendapat piagam penghargaan tingkat Nasional, yakni juara pertama lomba Cindera mata khas daerah dan juga juara pertama lomba membatik di Jogyakarta tingkat Nasional.

“Untuk lomba cinderamata khas daerah itu diselenggarakam pada 29 Oktober lalu, saya mengangkat tema “Budaya Kearifan Lokal dari Suku Anak Dalam Taman Nasional Dua Belas Belas (TNB.12) Menjadi Karya Seni Cinderamata Khas Daerah” yang terbuat dari kulit kayu terap,”katanya.

Disampaikannya, bahwa kulit kayu terap ini sangat banyak ditemukan di hutan Sarolangun. Biasanya digunakan sebagai bahan pakaian untuk Suku Anak Dalam (SAD), dan ditangannya disulap menjadi bahan cinderamata.

“Untuk mencari bahan kulit kayu terap itu biasanya kami bekerjasama dengan warga SAD. dan kulit kayu terap itu kami jadikan seperti tas, sepatu, dompet, baju dan rok. Dan untuk kualitas, sama dengan yang lainnya, hanya bahan dan coraknya saja yang berbeda,”ujarnya.

Sementara untuk batik sendiri, dirinya memenangkan juara satu tingkat nasional pada 20 April 2018 lalu di Jogyakarta. Dengan penilaian mulai dari corak batik, pewarnaan, desain batik dengan mengambil motif abstrak.

“Begitu juga dengan membatik, saya mengangkat campuran Budaya Sarolangun, Provinsi Jambi dan keagamaan. Dengan tema “Batik 9”, pengertiannya yakni Jambi 9 Lurah, Pemekaran Sarolangun pada tahun 1999 dan penyebaran agama islam yang dilakukan oleh 9 wali ,”ungkapnya.

Karena katanya, niatnya membatik tersebut adalah hanya memperkenalkan dan menggangkat budaya Sarolangun Jambi agar dapat dikenal oleh masyarakat luar. Sehingga, Sarolangun pada khususnya bisa dipandang oleh Provinsi tetangga.

“Karena selama ini, tidak semua pembatik bisa menuangkan kebudayaan masing-masing dan tidak bisa menempatkan warna diatas disaennya sendiri. Karena untuk kriteria batik ini dilihat dari desainnya yang unik, campuran pewarnaan dan motif batik itu sendiri,”ujarnya.

Saat ditanya peralatan membatik miliknya, Rikzan mengatakan, untuk saat ini peralatan membatiknya jauh dari kata lengkap. Karena saat ini dirinya membatik dengan cara manual.

“Hingga saat ini belum ada dukungan penuh dari Pemerintah Daerah maupun donatur dari luar. Sementara kami sendiri tidak punya modal untuk melakukan penggembangan. Dan untuk pemasaran masih sangat minim,”terangnya.

Disinggung terkait pemasaran ?, Rikzan mengatakan, untuk sementara ini lebih banyak konsumennya dari luar Provinsi Jambi ketimbang dari Sarolangun atau dalam Provinsi Jambi.

“Orang dari luar provinsi Jambi lebih banyak membeli, karena mereka suka dengan yang berbau seni kebudayaan, kemudian suka dengan cerita dan narasi yang dituangkan dalam batik itu sendiri, sementara masyarakat Sarolangun kurang minat dengan seni batik,” akunya.

Saat ditanya apa langkah kedepan yang akan dilakukan untuk memperkenalkan batik Sarolangun, dirinya berharap bisa mengikuti even ditingkat Asia dan pengen membuat galeri batik untuk tempat belajar dan memperkenalkan batik kepada masyarakat luas.

“Kalau masalah keinginan banyak sekali, hanya memang kami terkendala dana. Kalau harapan sementara, ada bantuan dari Pemkab Sarolangun untuk membuat galeri, karena memang semenjak saya mendapat penghargaan juara satu tingkat Nasional, banyak orang dari luar Provonsi Jambi yang ingin melihat dan belajar membatik dengan saya, sementara saat ini tidak memiliki tempat,”keluhnya

Kemudian harapan lainnya, ada kebijakan dari pemerintah untuk mendorong memperkenalkan batik Sarolangun dengan cara menerapkan pemakaian baju batik kepada semua instansi dan sekolah dihari tertentu.

“Dengan cara mewajibkan pemakaian batik Sarolangun minimal sekali seminggu kepada seluruh instansi dan anak sekolah yang ada di Kabupaten Sarolangun, artinya pemerintah sudah membantu saya untuk memperkenalkan batik kepada usia dini dan masyarakat luas,”pungkasnya. (Afdol)