Keluh..!! Pejabat Pemkab Sarolangun Ikut Shalat Subuh Keliling

75


NETIZENEWS.CO.ID/SAROLANGUN-Program Pemerintah Kabupaten Sarolangun yang sedang digalak2kan salah satunya melakukan Shalat Subuh keliling di setiap Kecamatan, Desa, dan Kelurahan, kegiatan tersebut sudah memakan waktu lebih kurang empat bulan lamanya, dan program tersebut disambut baik dari semua kalangan baik itu dari kalangan masyarakat maupun dari pejabat pemerintahan Kab. Sarolangun itu sendiri.

Pasalnya program tersebut adalah mengajak, menghimbau, mengingatkan kaum muslimin yang beriman agar bersama-sama memakmurkan Masjid diantaranya melakukan Shalat berjamaah dan juga agar membiasakan Shalat datang ke Masjid di awal waktu begitu juga dengan Shalat Subuh.

Anjuran sebelum pelaksanaan
Shalat Subuh, Shalat sunnah qobliyah Subuh atau Shalat sunnah Fajar yaitu dua raka’at

Adapun dalil yang menunjukkan keutamaan Shalat sunnah qobliyah Shubuh adalah hadits dari ‘Aisyah di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua raka’at fajar (Shalat sunnah qobliyah Shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725). Jika keutamaan shalat sunnah fajar saja demikian adanya, bagaimana lagi dengan keutamaan shalat Shubuh itu sendiri.

Menurut informasi yang di himpun NETIZENEWS.CO.ID, kamis (12/10/2017), program Pemkab Sarolangun menggalakkan Shalat Subuh berjamaah di sambut baik dari semua kalangan, namun dibalik itu ada dari kalangan pejabat mengeluh dengan program tersebut, pasalnya diduga program Shalat Subuh keliling ada semacam perasaan yang menganjal dari ritual ibadah itu sendiri dengan diadakannya absensi kehadiran para pejabat yang tergabung untuk Shalat Subuh keliling, sebut salah satu pejabat yang tidak disebut namannya.

Dengan adanya absensi diantara para peserta Shalat Subuh kesannya melaksanakan Shalat bukanlah niat pada Allah, namum dibalik itu adanya tersirat niat lain melaksanakan Shalat karena taat pada perintah pimpinan, ujarnya.

Keluhan yang kedua yakni, Shalat Subuh di tempat lain jauh diutamakan setimbang dilingkungan sendiri, sementara masih banyak pasilitas Masjid atau Langgar tempat ibadah yang lebih dekat dan terjangkau dari tempatnya berdomisili masih banyak yang kosong.

Keluhan yang ketiga yaitu, mengenai trasportasi mengingat jarak tempuh antar Kelurahan bahkan antar Kecamatan yang mau dicapai cukuplah jauh semuanya itu tentu memerlukan trasportasi karena adanya penjabat di Pemkab Sarolangun yang tidak mempunyai kendaraan roda empat sehingga menjadi kendala.

Dan keluhan ke empat ialah, setelah mengikuti Shalat Subuh keliling, pengakuannya sebagai pelayanan publik agak merasa kurang maksimal, pasalnya sebelum melakukan kunjungan Shalat Subuh keliling tentunya mempersiapkan diri lebih awal sebelumnya, jadi yang didapati setelah itu tenaga kutang fit, berangkat kerja agak terlambat dan setelah tiba ditempat kerja timbul rasa lelah dan ngantuk.

Lanjutnya, pada prinsipnya kami sangat mendukung program Pemkab Sarolangun dalam membiasakan Shalat Subuh berjamaah, kalau bisa Shalat Subuh digalakkan ditempat masing-masing yang didorong oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui para Camat, Lurah, Ketua Lingkungan, Ketua Rukun Tetangga (RT), dan mengkondisikan Tokoh-tokoh agama setempat sehingga dapat menggerakkan warganya masing-masing, serta dituntut peran serta adanya pejabat di sekitar tempat ibadah tersebut. Semoga program Pemkab Sarolangun berjalan dengan sukses, harapnya.

(Sopyan Abusro)