Jargon Putra Daerah VS Kualitas Transformasi Dan Spritual

81

(Analisis Model Mental Kepemimpinan Masa depan)
Oleh : Dr.Dedek Kusnadi,M.Si.MM
Dosen Ilmu Pemerintahan dan Pascasarjana UIN STS Jambi.Serta Pengamat Kebijakan Publik dan Politik Jambi.

NETIZENEWS.CO.ID/JAMBI-Isu Putra daerah di Pemilukada masih menjadi sekala utama tampa melihat tolak ukur perbandingan penduduk yang heterogen, sehingga hal ini di jadikan bagian pemisahan dari sempitnya kadar mental Kepemimpinan masa depan. Dengan mengedepankan ke unggulan kualitas Program dan Kesesuayan dalam tata kelola Pemerintahan Good Gevernance yang berbasis Kinerja.

Oleh karna itu tuntutan Publik, akan sesuatu yang konstan dalam abad moderen ini adalah perubahan, yang mampu menjawab perbedaan sebuah aktualisasi gagasan, ide yang di realisasikan dalam program kerja di lakukan, bukan hanya sebuah Visi – Misi yang masih berada pada level isu lokal yang hanya menciptakan Komplik Horizontal di tengah2 Publik ( Masyarakat pada umumnya ) maka kualitas kepemimpinan saat ini dapat terukur yang mampu mempunyai Pengaruh dan kualitas pembanding yang dapat meyakinkan publik, untuk memberikan terobosan baru dalam merebut Simpatisan Publik, atas capaian pembangunan manusianya serta Pembangunan Fisik insfrastruktur.

Bukan Justru memecah belah Publik dengan isu Putra daerah, karena penduduk yang sudah lama menetap dan beranak pinak dalam suatu daerah tentunya merasa ada kecanggungan akan isu sentral yg tidak mempunyai perbandingan kualitas program kerja kedepan, ketika terpilih menjadi kepala daerah. Model mental kepemimpinan, masa depan adalah asumsi yang di pegang oleh individu dan pemimpin organisasi yang dapat menentukan bagaimana suatu organisasi berpikir dan bertindak, sehingga model mental juga dapat menjadi bagian karakter Seorang Pemimpin. Oleh karena itu kepemimpinan adalah proses yang di dasarkan pada hubungan yang lentur dan dinamik, non-direktif, dan non-unilateral.Model yang di ajukan ini merupakan perubahan paradigma mendasar, ketimbang memandang pemimpin hanya sebatas keterampilan, kualitas dan perilaku kesederhanaan dari seorang individu Pemimpin yang, memberikan pengaruh atas orang lain untuk mengambil tindakan atau mencapai tujuan dengan menggunakan posisi dan kewenangannya. Sehingga hal inilah yang dapat di sebut istilah pencitraan (Meehan dan Reinelt, 2010).

Kualitas kepemimpinan yang efektif masa depan adalah, menciptakan kondisi yang memungkinkan orang untuk menghasilkan pengetahuan yang valid dan mampu melakukannya dengan cara yang rasional terukur serta mendorong tanggung jawab pribadi (Argyris, 1993).

Model mental Kepemimpinan Masa depan yang berkarakter memiliki gaya sendiri2 dalam proses kepemimpinan, baik itu Transformal maupun Spritual yg melekat pada diri sendiri seorang pemimpin Itulah standar tolak ukur pemimpin berkualitas.

Isu Primodial dalam proses Pilkada bukan barang baru lagi, walaupun terkesan strategi politik kuno, nyatanya mengangkat isu primodial masih menjadi topik yang dijual dalam perhelatan Pilkada di beberapa daerah. Isu kesukuan, putra daerah, isu agama, bergaris keturunan raja, alih waris, selalu menjadi tema kampanye untuk meraup suara dari calon pemilih. Namun yang harus di sadari bersama, bahwa sebaiknya isu putra daerah janganlah di jadikan jargon-jargon untuk meraup simpatik dan suara rakyat. Isu putra daerah adalah bentuk pemahaman yang sempit dan bentuk pendangkalan pandangan terhadap keberagaman dan kebhinekaan dalam NKRI

Terkait menentukan pilihan, sudah seharusnya kita bersikap cerdas dan memilih orang yang kita faham betul akan track recordnya. Jangan karena kesukuan, rasa tidak di pedulikan bagian kelompok kecil membuat kita lupa nasib Daerah dan bangsa ini ke depan. Kita boleh saja mendukung seseorang untuk kita jagokan, tapi harus tetap pada koridor yang benar. Sekali lagi jangan asal pilih, saya sangat prihatin dengan orang yang dengan sukarela menyuarakan untuk memilih putra daerah, sebagai bentuk dukungan untuk seorang sah-sah saja. Karena setiap warga Negara yg sudah akil balig berhak menentukan pilihannya. Tapi ketika sudah menyangkut ranah umum dengan merekomendasikan kepada orang banyak, akan beda, maknanya.

Sebelum kita salah langkah terlalu jauh, ada baiknya jika kita mengetahui makna “Putra daerah” itu sendiri, bahwa penamaan putra daerah tidak bisa di artikan dengan makna sempit. Apalagi dalam memilih pemimpin, pemahaman akan istilah Putra daerah akan menggerakkan semangat primordialisme (red- fanatisme terhadap ras dan suku tertentu) yang akan memberikan dampak buruk untuk persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kemudian, Persoalan yang tidak kunjung usai pada bangsa ini, tidak bisa diselesaikan dengan hanya mendukung putra daerah untuk maju dalam pemilihan. Seorang Pemimpin Tidak semudah itu, Ini masalah integritas, loyalitas dan kapabilitas seorang calon pemimpin.Tidak menjamin, seorang putra daerah memiliki kriteria tersebut. Banyak contoh, mereka yang ketika sudah terpilih, tidak ingat dan pura-pura lupa terhadap rakyatnya.

Indonesia umumnya dan Kota Jambi khususnya, butuh pemimpin yang pro rakyat dan Program yang terealisasi serta perubahan kemajuan yg pesat tumbuh nya ekonomi kerakyatan penyesuaian belanja APBD sesuai dengan Kajian dan di lindungi aturan UU, bukan yang mahir mengambil hati rakyat (red pencitraan). Saya setuju dengan slogan “saatnya Indonesia berubah”. Di kota jambi tentu nya Perubahan itu telah mulai tampak di bawah kepemimpinan Pak Fasha dan Pak Abdulah Sani, Beberapa waktu lalu, hal ini tentunya yg akan datang harus lebih baik. Konsfirasi Perebutan kekuasaan politik dalam tataran lokal itu jangan di jadikan ajang perpecahan kebersamaan dalam konsep pencapayan pembangunan daerah, karena hasil dari tujuan akhir kompetisi dalam perebutan kekuasaan adalah memberikan pelayanan yg maksimal dan kesejahterahan rakyat. Oleh karena itu mari seluruh elemen masyarakat kita inginkan sebuah Perubahan bukan pemisahan bagian kelompok2 masyarakat, tentunya untuk berfikir lebih cerdas. Berubah untuk tidak berfikir sempit. Berubah untuk mensosialisasikan pemilihan jujur. Berubah untuk tidak golput, sebab satu suara kita akan menjadi penentu nasib bangsa dan kota jambi yang kita cintai ini. Tidak di larang untuk memihak kepada salah satu calon pemimpin silahkan yang menurut kita baik dan punya pembada atas dasar dan pertimbangan apapun namun jangan sampai menghilangkan dan mengkerdilkan rasa persatuan sesama negara dan bangsa indonesia yang besar ini.

Dengan catatan, kita sudah mempelajari terlebih dahulu asal usul orang yang akan kita pilih. Jangan asal dukung dan jangan asal pilih. Masalah Indonesia Umum nya Kota jambi khususnya bukan sekedar masalah Putra Daerah.
Dalam pemilihan walikota dan wakil Walikota Jambi ada dua calon yang bersaing. Calon dengan nomor satu adalah Drs.H.Abdulah Sani.M.Pd – Kemas Alfarizi SE Sedangkan untuk nomor Urut dua adalah Dr.H.Sy.Fasha ME – Dr.dr.H.Maulana.MKM silahkan menilai dari sisi kualitas, integritas yang terukur dalam bentuk trobosan kemajuan bukan pelemahan idialisme serta pembunuhan karakter yang hanya menebar isu kebencian tanpa dasar kebenaran. Jargon-jargon putra daerah dan primordialisme lainnya, memang hanyalah salah satu bentuk propaganda komunikasi politik. Banyak kandidat yg sebelumnya tak pernah berbuat apapun untuk kemajuan daerahnya tiba-tiba menampilkan dirinya dengan penuh kebanggaan sebagai asli putra daerah, bahkan jiwa nasionalisme merekapun patut di pertanyakan.”Apakah hal tersebut, menjamin bisa dikatakan sebagai putera daerah yang berjiwa nasionalisme tinggi.

Menggunakan isu putera daerah dalam sebuah kompetisi politik seperti pilkada sah-sah saja. Namun begitu propaganda politik yang bersifat primordial dan narsis akan menciptakan relasi komunikasi yang tidak fair antara kandidat. Saat ini masyarakat sudah pandai memilih dalam melihat sosok yang di kehendaki untuk pemimpinya, yakni tidak lagi berorentasi putra daerah atau tidak putra daerah. Namun sosok yang diperlukan saat ini adalah sosok yang mampu jujur dan telah memberikan bukti, bukan hanya sebatas pencitraan. Pemimpin yang sejati merakyat bukan selalu memposisikan dirinya sebagai pemimpin yang selalu, memerintah.

Masyarakat kota jambi memiliki hak konstitusional untuk mendapatkan layanan prima dan berkualitas, yakni suatu layanan berupa gerak pembangunan SDM, SDA, yang sejalan dengan aspirasi rakyat, konstitusi dan tujuan nasional bangsa. Tinggalkanlah Berfikir Clasik di era Teknologi yang membutuhkan Kualitas kerja pada capayan hasil yang sesuai harapan.
Atas dasar itulah, semestinya kita membangun cara berpikir dan sikap kita untuk menilai para calon wali kota dan wali kota bukan atas dasar ragam propaganda yang jadul seperti isu putra daerah.

Kandidat memang boleh bicara apa saja, tapi rakyatlah pemilihnya. Menurut perundang-undangan tidak ada satupun norma yang mengatur hanya putra daerah yang boleh mencalonkan diri sebagai kepala daerah.”Baik Undang Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Pemda), maupun UU Otonomi landasan filosofis dan sosiologis dari UU itu adalah pengakuan dan penghormatan atas keragaman atau kemajemukan yang merupakan elaborasi dari UU 1945, Refleksi Evaluasi dalam mencari kepemimpinan masa depan yang ideal adalah Yang Transpormasional dan Spritual, memberikan Konsep gagasan dan tindakan nyata, bukan sekedar selogan.