Indah..! Oknum Wartawan & Polisi Lalu lalang Saat Lagu Indonesia Raya Dinyanyikan, Dirapat Paripurna Istimewa DPRD Kab. Sarolangun

44

 

NETIZENEWS.CO.ID/SAROLAMGUN- Lagu Indonesia Raya pertama kali dimainkan pada Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda) tanggal 28 Oktober 1928. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, lagu yang dikarang oleh Wage Rudolf Soepratman ini dijadikan lagu kebangsaan.

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan “lagu kebangsaan” di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh surat kabar Sin Po. Setelah dikumandangkan tahun 1928, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya.

Belanda – yang gentar dengan konsep kebangsaan Indonesia, dan dengan bersenjatakan politik divide et impera lebih suka menyebut bangsa Jawa, bangsa Sunda, atau bangsa Sumatera, melarang penggunaan kata “Merdeka, Merdeka!”

Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka ikuti lagu itu dengan mengucapkan “Mulia, Mulia!”, bukan “Merdeka, Merdeka!” pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat-rapat resmi. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.

Namun sangat disayangkan rapat Paripurna Istimewa DPRD Kabupaten Sarolangun rangka mendengar pidato resmi Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo di gedung DPRD Kab. Sarolangun, rabu (16/8/2017) jam.11.16 WIB melalui siaran langsung TV RI gedung DPR RI, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke 72 tahun 2017, berlangsungnya acara diwarnai pemandangan yang indah dan sedap dipandang mata.

Pasalnya saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan secara saksama melalui siaran Live TV RI dan di ikuti Bupati Kab. Sarolangun Cek Endra, Wakil Bupati H. Hilallatil Badri, Ketua DPRD M. Syaihu serta para anggota DPRD, Sekda H. Thabroni Rozali, Para Asisten, Para Stap ahli, Kepala OPD, Unsur Forkompimda, Ibu PKK, Kabag, kabid, kasi dan para tamu undangan lainnya, dan disuguhkan dengan spontanitas para oknum awak media, dan satu orang oknum Polisi berlalu lalang dengan indahnya mengabadikan momen tersebut dengan menyadari lagu kebangsaan Indonesia Raya sedang dinyanyikan secara khidmat.

Memang dalam Undang-Undang Pers No. 40 tahun 1999 tentang kebebasan Pers bahwa kebebasan pers telah diatur dalam UU, namun bila dirunut secara estetika sepertinya ada yang menarik dengan pemandangan demikian, rasanya jasa para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan dengan susah payah mempertaruhkan harta, benda, kelurga bahkan mengorbankan jiwa raga, demi suatu kemerdekaan bangsa Indonesia yang dibayar sangat mahal “merdeka atau mati”. Perlu direnungkan.

(Sopyan Abusro)