Turap Pulau Aro Terancam Longsor Diduga Bagunan Asal Jadi

36

Pembangunan turap yang dibangun didesa Pulau Aro Kecamatan Pelawan diduga asal-asalan, salah satunya soal penanaman tiang pancang yang tidak sesuai spek yang ada.

Dikatakan demikian, karena berdasarkan penelusuran lapangan yang dilakukan media ini penanaman tiang pancang yang harusnya dengan kedalaman empat meter tidak dilaksanakan pihak pelaksana proyek dan hanya ditanam pada kedalaman dua meter.

Terhadap hal tersebut, akibatnya. Proyek pembangunan turap pengamanan jembatan gantung di Deda Pulau Aro Kecamatan Pelawan Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi, menjadi masalah dan dianggap tidak memberi kenyamanan pada Warga Desa Pulau Aro.

Proyek senilai 1 Miliar lebih ini, menurut warga banyak terdapat kejanggalan karena pemilik proyek terlihat main kucing-kucingan dengan pemerintah desa maupun warga pemilik lahan diareal proyek.

“Itulah salah satunya, mereka tidak pernah berkomunikasi dengan pemilik lahan disekitar proyek, main masuk saja jalan disekitar lokasi, sekarang rusak dan becek akibat lulu lalang mobil angkutan material proyek,” kata Yusuf salah satu tokoh masyarakat desa setempat, Jumat (9/11/2018).

Selain itu, kepala desa Pulau Aro Aprizon mengatakan bahwa selama proyek tersebut berada di desanya memang ada kesan ketidak terbukaan pemilik proyek kepada pemerintah desa.

“Pernah kita selesaikan persoalan dengan pemilik lahan dan masyarakat, tapi hasilnya tidak pernah dijalankan, malah sering berubah-ubah apa yang disepakati dan berganti-ganti orang yang diutus untuk bertemu saya,” kata Kepala Desa.

Ia mengatakan, kejanggalan lain adalah soal material seperti pasir dan kerikil yang bercampur tanah, namun katanya saat ini telah dirubah setelah dinasehatinya.

“Sebelumnya memang terlihat materialnya seperti asal-asalan, tapi sekarang sudah dirubah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kesalahan lain yang paling mendasar berdasarkan pengamatannya adalah soal pondasi dan penanaman tiang pancang disekitar bawah jembatan tidak terlalu dalam.

“Yang tau kondisi tanah sekitar lokasi proyek kan kami, seharusnya pondasi lebih dalam karena sudah memasuki musim penghujan yang di kwatirkan akan terjadi longsor apabila hujan lebat disana sangat rawan banjir dan longsor, kan akan fatal lagi untuk ketahanan jembatan apabila terjadi longsor,” katanya.

Terhadap hal tersebut, ia juga mengatakan bahwa seharusnya proyek tersebut sudah selesai pekerjaannya menurut kalender kerjanya, yaitu 120 hari kerja, tapi sekarang belum sama sekali mendekati selesai.

“Kalau saya tidak salah proyek itu masuk sejak bulan Juli yang lalu sebelum Pilkades, kalau menurut kalender kerja 120 hari. Artinya kan empat bulan sejak bulan juli berarti sudah selesai sekarang,” kata Kades.

Untuk hal itu, ia menyebut bahwa pihak pemerintah desa maupun masyarakat desanya tidak mau dianggap mengganggu proyek masuk ke desanya ataupun membuat tidak nyaman orang melakukan pekerjaan didesanya.

“Tapi kan, kalau seoalah-olah kita dianggap remeh saja pasti semuanya tidak ada yang mau seperti itu, harusnya kan memang berkomunikasi yang baik dengan masyarakat dan pemerintah desa, jangan sebalinya malah terlihat arogan sekali,” katanya lagi.

Terhadap kejadian tersebut hingga berita ini diterbitkan, pihak perusahaan pemilik proyek belum memberikan tanggapan karena sangat sulit dihubungi. (Afdol)