Diduga Aset BUMD PT.TBG Merangin Banyak Hilang Negara Dirugikan 2,5 Miliar

650

MERANGIN-Baharudin, SE
(58) warga Merangin asal Kerinci mantan ketua Himpunan Keluarga Kerinci priode 2013-2018 di
Kabupaten Merangin, pada hari Jum’at (18/9/2020) menceritakan pada media ini minta di muat berita pada hari Jum’at (25 /9/ 2020).

Baharudin menceritakan Pada tahun 2018 bulan Maret di terbitkan SK menjabat sebagai Direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Merangin Pembangkit Listrik Tenaga Bio dan Gas (PT.TBG) yang posisi di Perusahaan , yang berada di Desa Karang Anyar sebelah PT. Graha Cipta Bangko

Lanjut Baharuddin, begitu SK di turunkan langsung cek ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Diduga ternyata barang-barang sudah banyak yang hilang, kabel POWER dan perangkat lainnya banyak yang hilang, di perkirakan kerugian negara mencapai 2,5 meliar. Habis cek ke lokasi saya langsung buat laporan ke Pemkab Merangin, katanya.

Cq.di sampaikan ke Kabag Ekonomi di tembuskan ke Kementerian SDM Jakarta namun sampai saat ini laporan tidak di tindak lanjuti oleh Pemkab Merangin, terangnya.

Baharudin mengatakan PT. TBG menelan dana anggaran 35 meliar dengan kejadian tersebut diperkirakan  kerugian negara 2,5 meliar, diduga Dadang terlibat dalam pengurusan dimasa itu, sekarang menjabat sebagai Kabag Ekonomi Pemkab Merangin, tuturnya.

Lanjutnya mangatakan pada media ini untuk di ketahui BUMD. Dadang Kabag Ekonomi mengatakan SK saya yang di buat bapak Bupati palsu. (Tidak sah) sehingga BUMD yang di buat di Merangin ini tidak jelas oleh kerena itu Gaji Karyawan 9 orang cuma satu kali saja dibayar.

Kami pernah berdebat dengan Dadang sempat Dadang mengatakan SK Baharudin Palsu. Sampai saat ini gaji karyawan belum juga di bayar.

Pada saat Dadang di jumpai di ruang kerjanya di tanya persoalan SK Baharudin itu palsu. Dia jawab tdak pernah saya mengatakan tegas nya.

FH. Sianturi LSM Gempur meminta pihak hukum tolong Bio Gas usut sampai tuntas . Kami juga akan buat surat tentang aset Merangin yang tidak jelas sebagai contoh tanah milik Pemda di bangun peribadi, Sungai di timbun di bangun Ruko pribadi. Cetak sawah di timbun dijadikan milik pribadi

(Yah)