Catatan Debat Pilwako Kota Jambi 2018

82

Oleh : Dr Dedek Kusnadi, M.Si, MM Akademisi, Dan Pengamat Kebijakan Publik Jambi.

NETIZENEWS.CO.ID/JAMBI-Mencermati pelaksanaan debat publik pasangan Walikota dan Wakil Walikota Jambi tahun 2018, secara umum sudah bisa dikatakan baik. Meski harus diakui bahwa antara pasangan nomor urut 1 dan nomor urut 2 terdapat perbedaan yang jauh dalam beberapa hal.

Pasangan nomor urut 2 (Fasha-Maulana) dinilai jauh lebih menguasai materi debat, dibandingkan dengan pasangan nomor urut 1 (Sani-Izi). Hal itu terlihat dari kegagapan Sani-Izi dalam menjelaskan apa dan bagaimana konsep reformasi birokrasi dan pelayanan publik, yang menajadi tema debat putaran pertama ini.

Selain kurang memahami konsep, Sani-Izi juga gagal menyebutkan program dan langkah kongret yang akan dilakukan dalam hal reformasi birokrasi, demi terwujudnya pelayanan publik yang prima.

Jangankan untuk berbicara program lebih jauh, dari sisi penguasaan visi-misi saja, pasangan Sani-Izi tidak meyakinkan publik agar mereka diberikan kepercayaan memimpin kota Jambi.

Sebaliknya, pasangan nomor urut 2, bisa menjelaskan dengan apik dan jelas kepada publik tentang konsep dan program unggulan, yang akan dilaksanakan jika terpilih sebagai Walikota dan wakil Walikota Jambi mendatang.

Dalam pelaksaaan debat yang bertempat di Ratu Convention Center itu, dari sisi pemaparan dan penguasaan panggung pun, pasangan Sani-Izi kalah jauh dari pasangan Fasha-Maulana. Hal itu dapat dilihat dari cara pasangan calon menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Pasangan Fasha-Maulana terlihat lebih tenang dan berdasarkan data dan fakta, dibandingkan pasangan Sani-Izi yang menjawab sekedarnya dan bernuasa tendensius.

Sani-Izi dalam debat publik putaran pertama, yang dilaksanakan pada 31 Maret lalu itu, banyak melakukan blunder-blunder sehingga merugikan mereka sendiri. Seperti dalam menjawab bagaimana menghindari praktek kolusi dalam birokrasi, jawaban Sani-Izi justeru menunjukkan sifat akan melakukan praktik kolusi dengan penyebutan akan melibatkan kader Partai Amanat Nasional (PAN) dalam proses penerimaan CPNS di kota Jambi.

Blunder lain yang dilakukan Sani-Izi adalah berbicara diluar tema yang telah ditentukan. Tema debat yang diangkat adalah “ Reformasi Birokrasi, Pelayanan Publik dan Penegakan Hukum”, sedangkan masalah yang diangkat oleh Sani-Izi adalah perpajakan dan pasar yang merupakan tema debat bidang perekonomian dan penaataan kawasan perkotaan. Menurut pengamat politik, Muhammad Farisi, S.H.,LLM, pasangan Sani-Izi telah offside, karena berbicara diluar tema.