Pro dan Kontra Pasar Angso duo dan Talang Gulo Dari Perspektif Administrasi Publik

Oleh : Dr Dedek Kusnadi, M.Si, MM.
Pengamat Publik dan Politik
Dosen Ilmu Pemerintahan Jambi.

NETIZENEWS.CO.ID/JAMBI-Membuat pasar tradisional yang bersih dan nyaman bukanlah sesuatu yang mustahil. Selain, menjaga, kebersihan, segar, sehat, higinies dan ramah lingkungan. Itulah Tujuan Utama.
Pemkot Kota Jambi Ingin Meciptakan Pasar dengan mengubahnya dari lingkungan kumuh menjadi bersih.

Perubahan lingkungan pasar seperti ini sangat perlu, selain kenyamanan tuntutan kebersihan sebagai pangkal kesehatan juga layak diperhatikan, ketika kenyamanan diperhatikan, maka tanpa harus bersusah payah pengunjung akan datang dengan sendirinya, dan perekonomian akan bergulir. Hal Tersebut Mungkin Yang tergagas dari Sikap Analisis Walikota Jambi, Dr. H. Syarif Pasha, ME.

Melihat Semerautnya Persoalan Pasar Angso duo yang di Ungkapkan Pedagang Beberapa hari lalu dengan dalih kalau di tata dan di pindahkan maka Omset berkurang dan tidak ada pembeli, Sehingga Pedagang Enggan di Pindahkan, Sehinnga akan terus bertahan. Jika di analogikan tentu ungkapan ini dapat di katakan Mustahil, Karna yg Namanya Pindah tentu belum ada yg seling mengenal antar satu dengan yg lain, apalagi Konsumen antara pembeli dan pedagang, palagi Pembeli yang mempunyai segmen pasar sendiri-sendiri.

Atas dasar segmentasi Pasar yang membagi suatu pasar menjadi kelompok2 pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda pula yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda juga. Segmentasi pasar bisa diartikan sebagai proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar tentunya, hal Ini jelas Menjadi Tanggung jawab publik secara bersama, Nah langkah yang di ambil Walikota Fasha dalam Menyikapi hal-Hal tersebut, tentu, melihat dan menganalisa perbedaan antara pembeli di pasar.

Agar dalam menggambil keputusan substansi kebijakan Jangan ada, anggapan pedagang tidak Berpihak dalam pelayanan yang memunculkan ketidak pahaman dan Menganggap kebijakan yang baik di tetapkan Walikota Fasha, Di Provokasi Seakan-akan Kebijakan Tersebut tidak berpihak kepada Pedagang. Di Anggap kebijakan yang bermasalah (flaw policy)

Hal ini lah yang seringkali di bebani dengan semangat curiga, kecewa, lebih melihat siapa yang membuat bukan apa yang dibuat. Kalaupun berbicara apa yang dibuat, tidak bisa lepas dari kepentingannya sebagai politisi, pengusaha, maupun corong para pihak yang berkepentingan, Padahal setelah melalui Proses tahapan dan sisialisasi Pemampaatan, tata ruang barulah menyadari apa yg di buat atas kebijakan tersebut berdampak Positif terhadap Kebersihan, juga Pendapatan. Jangan di benturkan dengan isu-usu kepentingan Politik, yang semakin hari semakin dibuat kisruh saja.

Yang di inginkan Publik, tentu Solusi,
Pemamfaatan serta dampak Budaya Sosialnya, dari kebijakan tersebut baru muncul paradok pemahaman kebijakan publik, yang Seakan-Akan Kebijakan terebut, semata2 hanya merugikan Publik. Publik Tanpa melihat sejauh mana Indikatornya terhadap Pesatnya kemajuan kota, dan dampak lingkungan Perkotaan yang Kurang Terkelola.

Akankah Pemkot Kota Jambi, di bawah lokomotif Dr.H.Syarif Fasha ME. hanya membiarkan begitu saja sehingga semakin runyam. “Tentu saja tidak. Lalu apa solusinya,” Tidak ada rumus yang jitu, Jika jawaban atas pertanyaan serupa masih bersifat kontekstual dan hipotesis. Yg Tidak melihat akar masalahnya, bagaimana Prosesnya, agar dapat terlihat Sasaran capayan yang terbaik.

Di antara yang kontekstual dan hipotesis tersebut ada sedikit kesamaan (sifat universalitas) dan peluang kebenarannya tinggi. Kalau Sesuai dengan Proses Tahapan Guna Peningkatan Pembagunan. Itulah Keputusan yg Maksimal Melahirkan kebijakan publik dapat di dekati dengan pendekatan ilmiah, menggunakan model kebijakan yang di dukung teori relevan yang telah teruji kesahihannya, dukungan basis data hasil riset yang komprehensif, serta kajian manfaat yang ditinjau dari berbagai aspek.

Dalam sasaran tujuan dari Pemimdahan Pasar serta Fungsi dari Agen Sup Agen, agar Pemkot Meyesuaikan Kelayakan dan Kenyamanan. Keputusan Produk Fasha Sebagai kepala Daerah tentu mempunyai peran penting akan hal ini sebagai gagasan kebijakan publik, yang di tetapkan dan di terapkan sehingga akhirnya merupakan muara dari proses politik.

Para politisi, birokrat, dan penggiat publik sebaiknya memiliki kapasitas sebagai policy entrepreneur, yang memahami dengan benar proses dan karakter kebijakan publik. Pada tahap ini acap timbul pro dan kontra, adu argumentasi, saling mempengaruhi, pengerahan dukungan dan lain sebagainya. Itu karna adanya ketidak Pahaman atau Di tunggangi Kepentingan Politik, yang tidak dapat memegang Peranan. Jelas Dalam peraturan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 11/M-DAG/PER/3/2006 Tahun 2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa (“Permendag 11/2006”) Selain itu juga dikenal adanya sub agen, yaitu perusahaan perdagangan nasional yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas nama prinsipal berdasarkan penunjukan atau perjanjian dan agen atau agen tunggal untuk melakukan pemasaran.

Pengelolaan pasar dan pembinaan pedagang, Jadi pada prinsip nya, sikap tegas Pemkot Jambi dalam hal Memisahkan Antara agen, dan Sup Agen Punya Landasan yang Mendasar dari pada Fungsinya masing-Masing. bukan berarti Pemkot Kota Jambi tidak memberi ruang untuk pedagang. Justru ingin menghadirkan tempat yg layak dan Lapang, Semua Kita ingin yg terbaik Untuk Masyarakat Kota Jambi. Tentu ada Peoses Tahapan yang di lalui. Antara Pedagang, Agen Sup Agen, dengan Pemkot saling memahami sebagai bagian mitra kerja sama dalam proses perencanaan Tata kota dan Tingkat Kenaikan Ekonomi kerayatan. Yang menjadi tujuan utama Visi-Misi Kota Jambi bangkit dan berdaya. Bersih Aman tertata, transparan serta saling berkerja sama antara pemerintah dan Masyarakat.