Pengrajin Tikar Tradisional Perlu Pelestarian dari Pemkab Sarolangun

SAROLANGUN – Meski kerajinan anyaman kini tidak sepopuler dulu, tetapi tidak membuat pengrajin berhenti untuk berkreatifitas. Maisarah (60) tahun salah seorang pengrajin yang berada di Desa Ladang Panjang, Kecamatan Sarolangun, Kabupaten Sarolangun mengaku tetap optimistis dengan kerajinan tangan yang sekarang masih dikelola.

Maisarah ungkapkan selain membuat tikar daun pandan kering juga bisa dianyam untuk membuat topi

Hasil karyanya bermacam2 dan dapat dihargai untuk tikar berukuran 1, 8 meter dihargai Rp 70.000 dikerjakan membutuhkan waktu tiga hari tiga malam, kemudian untuk topi dan tas harganya antara Rp. 15.000 hingga Rp.45.000, ungkap Maisarah.

Maisarah seorang janda dan hidup bersama cucunya, selain sebagai pengrajin dia juga seorang petani.

Sambung Maisarah, jikalau ada pesanan dari orang untuk beli tikar baru kemudian dia membuat tikar dan mengambil rumbai pandan di hutan kemudian dijemur, setelah kering baru di anyamkan, ucapan.

Maisarah mengungkapkan, karena makin sulitnya memperoleh bahan bakunya yakni berupa daun pandan dan juga minimnya penghasilan dari menjual samak, kini banyak pengrajin yang beralih profesi, kata Maisarah. Senin (11/2/2019).

Maisarah berharap Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui instansi terkait agar dapat membantu mempertahankan keberadaan para pengrajin tikar, imbuhnya.

Kita berharap pemerintah bisa memberikan solusi, agar pengrajin samak pandan di Desa Ladang Panjang agar dapat dilestarikan.

Kerajinan tradisional bisa tetap dikenal sebagai anak cucu kita, jika pemerintah ikut serta melestarikan atau mendukung penuh kita sebagai pengrajin tradisional, ungkapnya.

Penulis : Afdol